20/09/11

Kisah Kijang yang Cerdas

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor kijang, ia tinggal di sebuah hutan dan hidup dari buah-buahan yang ada di hutan tersebut. 
Pada waktu itu, ia hidup dari buah pohon sepa (Gmelina Arborea). Di desa, terdapat seorang pemburu yang melakukan perburuan dengan cara membangun panggung kecil di cabang pohon tempat ia menemukan jejak rusa; ia mengamati dari atas saat rusa itu datang untuk makan buah dari pohon tersebut. Saat rusa muncul, ia membunuhnya dengan menggunakan tombak, dan menjual daging rusa itu untuk menghidupi dirinya. Suatu hari, ia menemukan jejak kaki Bodhisatta di sebuah pohon, ia pun membangun panggung kecil di cabang pohon tersebut.
Setelah sarapan lebih awal, ia membawa tombaknya dan masuk ke hutan itu, kemudian duduk di panggung kecil yang telah dibangunnya. Bodhisatta juga muncul pagi-pagi untuk makan buah dari pohon tersebut, namun ia tidak segera menghampiri tempat itu. Ia berpikir, “Kadang-kadang pemburu membangun panggung kecil di dahan pohon. Apakah hal itu juga terjadi di pohon ini?” Ia berhenti di tengah jalan untuk mengintip kesalahan.

Melihat Bodhisatta tidak mendekat, pemburu yang masih duduk di panggung itu melemparkan buah-buahan ke hadapan kijang itu. Berpikirlah kijang itu, “Buah-buahan ini datang sendiri kepadaku. Saya ragu apakah ada pemburu di atas sana.” Maka ia memperhatikan lebih teliti lagi, akhirnya terlihat juga olehnya pemburu yang berada di atas pohon itu, namun ia berpura-pura tidak melihatnya, Bodhisatta berkata kepada pohon itu, “Pohonku yang sangat berharga, sebelumnya engkau mempunyai kebiasaan untuk menjatuhkan buah ke tanah dengan gerakan laksana anting-anting yang menjalar turun, namun hari ini kamu berhenti bertingkah seperti sebuah pohon, saya juga harus berubah, dengan mencari makanan di bawah pohon yang lain.”
Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengulangi syair berikut ini :

Kijang ini mengetahui dengan baik buah yang engkau jatuhkan; saya tidak menyukainya, saya akan mencari pohon lain.
Pemburu itu melemparkan tombaknya ke arah Bodhisatta dari panggung itu, dan berteriak, “Pergi! Saya tidak mendapatkanmu kali ini.” Membalikkan badannya, Bodhisatta berhenti sejenak dan berkata, “Engkau memang tidak mendapatkan saya, Teman yang baik, namun percayalah, engkau tidak kehilangan akibat perbuatanmu, yakni delapan neraka besar (mah?niraya) dan enam belas neraka kecil (ussadaniraya), serta lima bentuk ikatan dan siksaan.” Diiringi dengan kata-kata ini, kijang itu meninggalkan tempat itu, pemburu itu juga turun dari panggung itu dan pergi dari sana.
Sumber artikel : http://buddhist.dipankarajayaputra.com/kisah-kijang-yang-cerdas.html
Sumber gambar : http://lotaugak.blogspot.com

Biarkanlah Pohon Itu Tumbuh

Sang Buddha menjelaskan bahwa segala sesuatu secara alamiah, sekali anda telah melaksanakan tugas anda, serahkanlah hasilnya pada alam, pada kekuatan akumulasi karmamu. Akan tetapi pengerahan usahamu harus tidak berkurang. Apakah buah kebijaksanaan itu datangnya cepat atau lambat anda tidak dapat memaksanya, seperti halnya anda tidak dapat memaksa tumbuhnya sebuah pohon yang anda tanam.

Pohon itu punya masanya sendiri. Tugasmu hanyalah menggali lubang, mengairi dan memupuknya, serta menjaganya dari hama. Tapi cara pohon itu bertumbuh adalah terserah kepada pohon itu sendiri. Jika anda berlatih seperti ini, yakinlah anda bahwa semuanya akan beres, dan tanaman anda akan tumbuh.

Karena itu, anda harus mengerti perbedaan antara kerja anda dengan kerja pohon itu, Serahkanlah urusan pohon itu kepada pohon itu, dan bertanggung jawablah kepada urusan anda sendiri. Jika batin tidak tahu apa yang perlu ia lakukan, ia akan memaksa tanaman itu untuk tumbuh, berbunga dan berbuah pada hari yang sama.

Ini adalah pandangan yang salah, penyebab besar dari penderitaan. Berlatih sajalah pada arah yang benar dan serahkan hasilnya pada karmamu. Kemudian, apakah akan membutuhkan waktu satu atau ribuan kali kehidupan, latihan anda akan berada dalam kedamaian.

Sumber artikel : Buku Telaga Hutan yang Hening
Sumber gambar : yayu.wordpress.com

Kisah Babi Peta

Suatu ketika, saat Maha Moggallana Thera berjalan menuruni bukit Gijjhakuta bersama Lakkhana Thera, beliau melihat sesuatu yang menyedihkan, yaitu makhluk peta kelaparan, dengan kepala berwujud babi dan berbadan manusia. Melihat makhluk peta tersebut, Maha Moggallana Thera tersenyum namun tak berkata sedikit pun. Pada saat tiba di vihara, Maha Moggallana Thera menghadap Sang Buddha, membicarakan tentang makhluk peta berwujud babi yang mulutnya penuh dengan belatung.

Kebahagiaan Sejati

Lupakan soal suka dan tidak suka. Keduanya bukanlah konsekuensi, Kerjakan apa yang harus dikerjakan. Mungkin itu bukan sesuatu yang membahagiakan, namun disitulah letak kebesaran.  Seorang ibu cantik berpakaian mewah datang ke psikiater utk konsultasi. Ia merasa seluruh hidupnya kosong tak bermakna.
Psikiater itu memanggil seorang perempuan tua, salah seorang petugas di kantor…
“Saya minta Anni utk menceritakan bagaimana ia menemukan kebahagiaan. Yang harus Ibu lakukan hanya mendengarkan saja.”
Anni duduk di kursi & bercerita, “Suami saya meninggal karena kanker. Tiga bulan kemudian putra tunggal saya meninggal ditabrak truk. Saya tak punya siapa pun. Tak ada yg tertinggal. Saya tak bisa tidur, tak bisa makan, tak bisa senyum. Saya bahkan berpikir mau bunuh diri.
Lalu suatu malam, ketika pulang kerja, seekor kucing mengikuti saya. Karena di luar dingin, saya membiarkan anak kucing itu masuk ke dalam rumah. Saya memberinya susu, yg langsung habis diminum. Anak kucing itu mengeong & mengusapkan badannya ke kaki saya. Utk pertama kalinya dlm bulan itu, saya bisa tersenyum.
Saya lalu berpikir, jika membantu anak kucing bisa membuat saya tersenyum, mungkin melakukan sesuatu utk orang lain bisa membuat saya bahagia.
Jadi, hari berikutnya, saya buat kue & bawa ke tetangga yg sakit, yg terbaring di ranjang & tak bisa bangun.
Setiap hari saya mencoba melakukan sesuatu yg baik pada seseorang. Melihat mereka bahagia membuat saya bahagia.
Hari ini, rasanya tak ada org yg bisa makan lahap & tidur pulas seperti saya. Saya menemukan kebahagiaan, kegembiraan dgn memberikan kegembiraan pada org lain,” kata Anni.
Mendengar cerita ini, perempuan kaya itu menangis. Ia punya segala sesuatu yg bisa dibeli dengan uang, tapi dia kehilangan hal-hal yg tak bisa dibeli uang.
Syukur adalah magnet keberkahan. Bersyukurlah atas apa yg telah dimiliki agar kebahagiaan selalu mengisi kehidupan. Jangan cari kesempurnaan tapi sempurnakan yg telah ada. Jangan fokus pada apa yg hilang, berfokuslah pada apa yg masih dimiliki.

Sumber artikel : http://buddhist.dipankarajayaputra.com/kebahagian-sejati.html
Sumber gambar : eky-ekyputri.blogspot.com

22/08/11

Meramal Masa Depan

Banyak orang yang ingin mengetahui masa depan. Sebagian orang begitu tak sabarnya menanti apa yang akan terjadi, karena itu mereka mulai mencari jasa dukun dan peramal. Saya punya peringatan bagi Anda mengenai para peramal: jangan percaya pada peramal yang miskin!

Para bhikkhu yang berlatih meditasi dianggap sebagai peramal yang hebat, tetapi biasanya mereka tidak gampang diajak bekerja sama.



Suatu hari, seorang umat yang telah lama menjadi murid Ajahn Chah meminta sang guru besar untuk meramal masa depannya. Ajahn Chah menolak: bhikkhu yang baik tidak ramal- meramal. Tetapi si murid bersikukuh. Dia mengingatkan Ajahn Chah berapa kali dia sudah berdana makanan, berapa banyak dana yang telah dia sumbangkan untuk viharanya, dan bagaimana dia menyopiri Ajahn Chah dengan mobil dan biaya darinya, mengabaikan keluarga dan pekerjaannya sendiri. Ajahn Chah melihat bahwa orang itu terus bersikeras meminta untuk diramal, jadi dia berkata untuk sekali ini saja dia akan membuat perkecualian terhadap peraturan bahwa bhikkhu tidak boleh meramal. "Mana tanganmu. Sini kulihat telapak tanganmu."

Si murid sangat senang. Ajahn Chah belum pernah membaca telapak tangan murid lainnya. Ini spesial. Lagi pula, Ajahn Chah dianggap sebagai orang suci yang punya kemampuan batin yang hebat. Apa pun yang dikatakan oleh Ajahn Chah akan terjadi, pasti akan terjadi.

Ajahn Chah menelusuri garis-garis telapak tangan si murid dengan jarinya. Setiap beberapa saat, dia bicara sendiri, "Ooh, ini menarik" atau "Ya, ya, ya" atau "Luar biasa". Si murid yang malang itu risau dalam penantian.

Ketika Ajahn Chah selesai, dia melepaskan tangan si murid dan berkata kepadanya, "Murid, berikut ini adalah keadaan masa depanmu."

"Ya, ya," kata si murid dengan cepat.

"Dan saya tak pernah salah," tambah Ajahn Chah.

"Saya tahu, saya tahu. Jadi, bagaimana nasib masa depan saya?" tanya si murid dengan penasaran memuncak.

"Masa depanmu akan tak pasti," kata Ajahn Chah. Dan dia tidak salah!

Sumber: buku Membuka Pintu Hati

Gundukan Pupuk Kandang (oleh Ajahn Brahm)

Hal-hal tidak menyenangkan, seperti duduk di peringkat terbawah di kelas kita, terjadi dalam kehidupan. Hal-hal itu dapat terjadi pada setiap orang. Perbedaan antara orang yang bahagia dan tertekan hanyalah pada bagaimana mereka bereaksi terhadap kemalangan.

Bayangkan anda baru saja mengalami suatu sore yang indah di pantai bersama seorang teman. Ketika anda kembali ke rumah, anda mendapati gundukan pupuk kandang tepat di depan pintu


rumah anda. Ada 3 hal untuk diketahui sehubungan dengan gundukan pupuk kandang ini :
1. Anda tidak memesannya. Ini bukan kesalahan anda.
2. Anda merasa habis akal.Tak ada yang melihat siapa yg menimbunnya di situ, jadi anda tak dapat menelpon pelakunya utk menyingkirikannya.
3. Pupuk itu kotor dan semerbak memenuhi seluruh rumah anda. Sungguh tak tertahankan.

Pada perumpamaan ini, gundukan pupuk kandang di depan rumah anda melambangkan pengalaman2 traumatik yg menimpa kita dalam kehidupan. Seperti halnya dg gundukan pupuk kandang itu, ada 3 hal untuk diketahui sehubungan dengan tragedi dalam kehidupan kita.
1. Kita tak memesannya. Kita berkata : “Kenapa saya ?”
2. Kita merasa habis akal. Tak seorangpun, sekalipun teman terbaik kita dapat menyingkirikannya (meski mereka mencoba)
3. Tragedi itu sangat menyakitkan menghancurkan kebahagiaan kita, dan rasa sakit yang
ditimbulkannya menghantui sepanjang hidup kita. Sungguh tak tertahankan.

Ada 2 cara merespon timpaan gundukan pupuk kandang itu. Cara pertama adalah membawa kotoran itu ke mana-mana bersama kita. Kita taruh segenggam di saku kita, sebagian di tas kita dan sebagian lai di baju kita. Kita bahkan juga menaruhnya di celana panjang kita. Kita dapati, ketika kita membawa kotoran itu ke mana-mana, kita kehilangan teman! Bahkan teman2 terbaik pun tampaknya tak begitu senang lagi dekat2 dg kita.

Membawa kotoran ke mana2 adalah perumpamaan untuk keadaan tenggelam dalam depresi, hal-hal negatif, atau amarah. Itu adalah sebuah respon terhadap kemalangan yang lumrah dan dapat dimaklumi. Tetapi kita kehilangan banyak teman, karena lumrah dan dapat dimaklumi pula jika teman2 kita tidak suka berada di samping kita yang selalu merasa depresi. Lagipula, dg cara ini gundukan kotoran itu sendiri tak menjadi berkurang, tapi baunya malah bertambah busuk.

Untunglah, ada cara kedua. Ketika kita tertimpa gundukan pupuk kandang, kita menghela napas, dan setelah itu mulai bekerja. Ambil gerobak dorong, garu dan sekop. Kita garu kotoran itu ke gerobak dorong, membawanya ke belakang rumah dan menguburnya di kebun kita. Memang ini sulit dan melelahkan, tetapi kita tahu tak ada pilihan lain. Kadang kita hanya mampu mengatasi separuh gerobag saja dalam sehari, namun kita melakukan sesuatu yang menyelesaikan masalah, daripada hanya mengeluh saja dan terbenam dalam depresi. Dari hari ke hari, kita menggaru dan mengubur kotoran itu. Dari hari ke hari gundukannya menjadi semakin berurang. Kadang diperlukan waktu beberapa tahun, namun pagi yang cerah tiba juga ketika gundukan kotoran di depan rumah kita tak berbekas lagi. Selanjutnya, sebuah keajaiban terjadi di belakang rumah kita. Bunga-bunga di kebun kita bermekaran dg warna-warni memenuhi setiap sudut. Keharuman menyebar sampai ke jalan, sehingga para tetangga bahkan orang lewat pun tersenyum bahagia karenanya. Lalu pohon buah yang tumbuh di sudut tanaman hampir rubuh karena begitu tergelayuti oleh buah-buahnya. Dan buahnya sungguh manis. Anda tak dapat membeli buah seperti itu. Ada begitu banyak buah, bahkan orang2 yg lewat pun dapat ikut menikmati sedapnya rasa buah ajaib itu.

“Mengubur kotoran” adalah perumpamaan untuk menyambut datangnya tragedi sebagai penyubur bagi kehidupan kita. Itu pekerjaan yang harus kita lakukan sendiri, tak ada yang dapat membantu kita. Namun dg menguburnya di taman hati kita, dari hari ke hari, gundukan rasa sakit itu semakin berkurang. Bisa saja itu membutuhkan beberapa tahun, namun pagi yg cerah akan tiba tatkala kita melihat tak ada lagi rasa sakit di dalam hidup kita dan di dalam hati kita, sebuah keajaiban telah terjadi. Bunga2 kebajikan bermekaran memenuhi seluruh tempat, dan harumnya cinta menyebar sampai jauh, ke para tetangga kita, teman kita, dan bahkan sampai juga ke orang2 yang tidak kita kenal. Lalu pohon kebijaksanaan yang tumbuh di sudut taman hati kita menjadi tergelayut karena saratnya buah pencerahan akan hakikat kehidupan. Kita dapat membagi-bagikan buah2 yg enak itu dengan gratis, bahkan kepada orang2 yg tdk kita kenal, tanpa sengaja merencanakannya.

Ketika kita telah mengenal rasa sakit yang tragis, pelajarilah pelajaran yang diberikannya, dan tumbuhkan taman kita, lalu kita dapat merangkulkan lengan kita dalam tragedi yang dalam dan berkata dg lembut, “ Aku tahu”. Mereka akan tahu bahwa kita telah paham. Belas kasih dimulai. Kita tunjukkan pada mereka gerobak dorong, garu, sekop dan dorongan semangat tanpa batas. Jika kita belum dapat menumbuh kembangkan taman kita sendiri, semua ini tak dapat kita lakukan.

Saya mengenal banyak bikkhu yg piawai dalam bermeditasi, yg penuh kedamaian, tenang dan tenteram dalam menghadapi kemalangan. Tetap hanya sedikit yg menjadi guru hebat. Saya sering heran mengapa bisa begitu.

Sekarang menjadi jelas bagi saya bahwa bikkhu2 yg relatif tidak banyak kemalangan, yg mempunyai sedikit kotoran utk dikuburkan, adalah mereka yg tidak menjadi guru2 hebat. Adalah bikkhu2 yg mengalami kesukaran yg besar,dg diam menguburkannya, dan datang dg taman yg subur, adalah mereka yang menjadi guru2 hebat. Mereka semua memiliki kebijaksanaan, ketenangan, dan belas kasih; tetapi hanya mereka yg memiliki kotoran lebih banyaklah yg dpt membagikannya kepada dunia. Guru saya, Ajahn Chan, yg bagi saya pribadi adalah menara dari semua guru, pasti memiliki armada truk pengangkut pupuk kandang yg berjejer di depan pintu rumahnya, pada masa2 awal kehidupannya.

Barangkali moral dari cerita ini adalah, jika anda ingin melayani dunia, jika anda ingin mengikuti jalan belas kasih, maka bila suatu ketika tragedi terjadi dalam hidup anda, anda dapat berkata, “Cihui ! Aku dapat banyak pupuk untuk taman saya”.

Kisah Dua Sahabat

Suatu ketika terdapat dua orang sahabat yang berasal dari keluarga terpelajar, dua bhikkhu dari Savatthi. Salah satu dari mereka mempelajari Dhamma yang pernah dikhotbahkan oleh Sang Buddha, dan sangat ahli/pandai dalam menguraikan dan mengkhotbahkan Dhamma tersebut. Dia mengajar lima ratus bhikkhu dan menjadi pembimbing bagi delapan belas group dari para bhikkhu tersebut.

Bhikkhu lainnya berusaha keras, tekun, dan sangat rajin dalam meditasi sehingga ia mencapai tingkat kesucian arahat dengan memiliki pandangan terang analitis.

Pada suatu kesempatan, ketika bhikkhu kedua datang untuk memberi hormat kepada Sang Buddha di Vihara Jetavana, kedua bhikkhu tersebut bertemu. Bhikkhu ahli Dhamma tidak mengetahui bahwa bhikkhu sahabatnya telah menjadi seorang arahat. Dia memandang rendah bhikkhu kedua itu, dia berpikir bahwa bhikkhu tua ini hanya mengetahui sedikit Dhamma. Maka dia berpikir akan mengajukan pertanyaan kepada sahabatnya, bahkan ingin membuat malu.

Sang Buddha mengetahui tentang maksud tidak baik itu, Sang Buddha juga mengetahui bahwa hasilnya akan membuat kesulitan bagi pengikut luhur seperti bhikkhu terpelajar itu. Dia akan terlahir kembali di alam kehidupan yang lebih rendah.

Dengan dilandasi kasih sayang, Sang Buddha mengunjungi kedua bhikkhu tersebut untuk mencegah sang terpelajar bertanya kepada bhikkhu sahabatnya.
Sang Buddha sendiri bertanya perihal ‘Penunggalan Kesadaran’ (jhana) dan ‘Jalan Kesucian’ (magga) kepada guru Dhamma; tetapi dia tidak dapat menjawab karena dia tidak mempraktekkan apa yang telah diajarkan.

Bhikkhu sahabatnya telah mempraktekkan Dhamma dan telah mencapai tingkat kesucian arahat, dapat menjawab semua pertanyaan. Sang Buddha memuji bhikkhu yang telah mempraktekkan Dhamma (vipassaka), tetapi tidak satu kata pujianpun yang diucapkan Beliau untuk orang yang terpelajar (ganthika).

Murid-murid yang berada di tempat itu tidak mengerti, mengapa Sang Buddha memuji bhikkhu tua dan tidak memuji kepada guru yang telah mengajari mereka. Karena itu, Sang Buddha menjelaskan permasalahannya kepada mereka.

Pelajar yang banyak belajar tetapi tidak mempraktekkannya sesuai Dhamma adalah seperti pengembala sapi, yang menjaga sapi-sapi untuk memperoleh upah, sedangkan seseorang yang mempraktekkan sesuai Dhamma adalah seperti pemilik yang menikmati lima manfaat dari hasil pemeliharaan sapi-sapi tersebut. Jadi orang terpelajar hanya menikmati pelayanan yang diberikan oleh murid-muridnya, bukan manfaat dari ‘Jalan’ dan ‘Hasil Kesucian’ (magga-phala).

Bhikkhu lainnya, berpikir dia mengetahui sedikit dan hanya bisa sedikit dalam menguraikan Dhamma, telah memahami dengan jelas inti dari Dhamma dan telah mempraktekkannya dengan tekun dan penuh semangat; adalah seseorang yang berkelakuan sesuai Dhamma (anudhammacari). Yang telah menghancurkan nafsu indria, kebencian, dan ketidak-tahuan, pikirannya telah bebas dari kekotoran batin, dan dari semua ikatan terhadap dunia ini maupun pada yang selanjutnya, ia benar-benar memperoleh manfaat dari ‘Jalan?dan ‘Hasil Kesucian’ (magga-phala).

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 19 dan 20 berikut ini :
Biarpun seseorang banyak membaca kitab suci, tetapi tidak berbuat sesuai dengan ajaran, maka orang lengah itu sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain; ia tak akan memperoleh manfaat kehidupan suci.

Biarpun seseorang sedikit membaca kitab suci, tetapi berbuat sesuai dengan ajaran, menyingkirkan nafsu indria, kebencian dan ketidaktahuan, memiliki pengetahuan benar dan batin yang bebas dari nafsu, tidak melekat pada apapun baik di sini maupun di sana; maka ia akan memperoleh manfaat kehidupan suci.

26/07/11

Sikap Mental Positif YM. Bhikkhu Abhayanando

Amogham divasam kayira, appena bahukenava Yam yam vijahite rattim, tadunan tassa jivitam
Jadikanlah harimu produktif, apakah sedikit atau banyak. Karena setiap siang dan malamyang berlalu, kehidupanmu berkurang sebanyak itu.
(Thera Gatha. 451) ?
Siapakah Manusia Itu?

Kenapa arti manusia dipertanyakan? Bukankah kita adalah manusia? Memang, kita adalah manusia, tetapi kita belum mengetahui arti sebenarnya manusia itu sendiri. Bila dilihat dari luar, manusia adalah seperti yang kita lihat sekarang ini.Tubuh materi ini terdiri dari kekuatan dan sifat yang selalu berubah-ubah. Para ilmuwan sulit mendefinisikan materi ini. Ahli filsafat pernah mendefinisikan “zat yang selalu mengalami perubahan-perubahan disebut gerak.” Istilah Pâli untuk zat adalah Rûpa, diterangkan (berubah dan hancur).
Di sini, kita hanya membicarakan arti manusia secara harfiah, bukan arti manusia secara mendetail. Secara harfiah, manusia terdiri dari dua kata yaitu mano dan ussa, mano artinya batin, sedangkan ussa artinya luhur. Jadi, arti manusia adalah makhluk yang luhur.

Setelah mengetahui artinya, ternyata banyak manusia yang sesuai dengan makna manusia itu sendiri. Masih banyak manusia yang batinnya tidak karuan, mereka masih mengumbar ambisi-ambisinya. Banyaknya terjadi penyimpangan dikarenakan mental manusia yang merosot. Secara fisik kita ini manusia, tetapi secara batin kita belum, karena batin kita masih suka mengembara ke arah keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin.
Bila diarahkan dengan baik manusia akan mencapai cita-cita luhur. Hanya saja untuk mengarahkannya memerlukan waktu dan kemampuan manusia itu sendiri. Tetapi mereka umunya tidak menyadari bahwa di dalam dirinya ada kekuatan untuk menghadapi hidup ini.
Terlahir sebagai manusia merupakan kebahagiaan, karena sulit sekali untuk terlahir menjadi manusia apalagi dapat mengenal Dhamma. Dalam Khuddhaka Nikâya, Sang Buddha bersabda, “Dalam sisa-sisa kehidupan ini seseorang hendaknya menunaikan tugas-tugasnya dengan baik dan tidak ceroboh.” Sang Buddha menganjurkan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin, sehingga cita-cita untuk menjadi manusia Dhamma akan berhasil. Dhamma dapat dijadikan ‘tameng’ untuk menghadapi tantangan hidup.
Kehidupan Tidak Pasti
Walaupun kita sudah terlahir sebagai manusia, bukan berarti kita sudah bebas semau kita. Ada beberapa hal yang seharusnya kita renungkan sebagai manusia. Siapkah mental kita menghadapi realita hidup? Hidup adalah perjuangan maka harus diperjuangkan. Walaupun untuk memperjuangkannya banyak hal yang akan kita hadapi, tetapi jika kemampuan terus kita pupuk, maka kita akan menjadi kuat menghadapinya.
Sang Buddha dengan tegas dan jelas menyatakan bahwa hidup ini adalah “dukkha”. Kenapa hidup ini dukkha? Tentunya Sang Buddha sudah jelas melihat kehidupan ini, sehingga beliau berani mengatakan hidup ini adalah dukkha. Tidak dapat disangkal bahwa kata Pâli “dukkha” dalam percakapan sehari-hari berarti “derita”, “sakit”, “sedih” sebagai lawan dari kata “sukha” yang berarti “bahagia”, “senang” atau “gembira”. Tetapi kata “dukkha” yang dipakai dalam Kebenaran Mulia Pertama, merupakan pandangan Sang Buddha tentang kehidupan, serta mempunyai arti filosofis yang mendalam dan mencakup bidang yang sangat luas. Kata `dukkha” selain berarti “derita” bisa juga mempunyai arti yang lebih dalam lagi, seperti “tidak sempurna”, “tidak kekal”, “kosong”, “tanpa inti”. Sulit sekali mencari arti yang tepat untuk mencakup kata dukkha.
Inilah yang kadangkala membuat banyak orang salah menafsirkan agama Buddha. Ada anggapan bahwa agama Buddha ini loyo, suram, pesimis, dan kata-kata yang bernada miring lainnya. Kalau agama Buddha adalah agama yang pesimis, tentunya tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang. Saat sekarang ini manusia dituntut untuk menghadapi persaingan yang begitu ketat. Manusia dituntut untuk maju dan bergerak dengan cepat.
Agama yang loyo tentunya tidak dapat mengikuti perkembangan zaman globalisasi. Mana mungkin bisa maju, jika tidak ada semangat, gairah dalam perjuangan hidup. Tantangan hidup yang semakin keras memerlukan kekuatan untuk menghadapinya. Kekuatan itu adalah kekuatan semangat dan kerja keras. Apakah agama Buddha ada kekuatan semacam itu? Kenapa Sang Buddha berkata bahwa hidup ini adalah dukkha? Tentunya kita harus menyelami lebih jauh apa yang diajarkan Sang Buddha.
Benarkah agama Buddha seperti yang mereka katakan? Sangat wajar kalau mereka mengemukakan pandangan seperti itu karena mereka tidak memahami dengan benar ajaran Sang Buddha. Mereka hanya melihat sepintas dari Dhamma yang diajarkan Sang Buddha. Survei membuktikan bahwa agama Buddha tidak seperti yang mereka katakan. Kalau memang agama Buddha ini adalah agama yang suram tentunya tidak ada anjuran berbuat baik atau latihan spiritual. Ternyata Dhamma mengajak kita untuk terus berbuat baik, menjaga moralitas, dan juga menjaga pikiran.
Sang Buddha sendiri berjuang dan perjuangan beliau sangat lama. Banyak hal yang beliau hadapi sebagai tantangan yang sangat besar dan berat. Beliau tetap berjuang dengan penuh semangat dan akhirnya perjuangan Beliau mencapai puncak keberhasilan. Perjuangan yang panjang dan sangat melelahkan, kalau tidak ada semangat mana mungkin ada keberhasilan. Ini membuktikan bahwa agama Buddha tidak pesimistis.
Memang, hidup ini tidak pasti. Siapa yang bisa memastikan kehidupan ini? Tidak ada yang bisa memastikan. Hidup ini terus mengalami perubahan dan jika kita tidak bisa menerima perubahan itu, kita menjadi stres luar biasa. Pada umumnya kita tidak mau adanya perubahan dan ingin segala sesuatunya tetap. Sikap seperti inilah yang membuat kita cemas, bingung, khawatir, dan ragu menghadapi hidup.
Sikap batin yang positif sangat berguna bagi kita untuk menghadapi ketidakpastian hidup. Diperlukan kekuatan yang benar-benar mengarahkan kita kepada perjuangan hidup dan membutuhkan waktu yang lama. Perjuangan kita belum usai sebelum kita mencapai pencerahan. Namun, yang terpenting bagi diri kita adalah membiasakan membangun mental untuk menghadapi hidup ini.
Hidup Adalah Perjuangan
Kehidupan adalah milik manusia yang paling dicintai tetapi jika dihadapkan dengan kesukaran-kesukaran yang tidak dapat diatasi, hidup itu menjadi beban yang sangat berat. Kadang-kala ia mencari pembebasan dengan mengakhiri hidupnya; seolah-olah bunuh diri dapat menyelesaikan masalah pribadinya.
Manusia menginginkan hidup damai dan bahagia dengan orang-orang terdekatnya, tetapi jika kemalangan, ambisi, dan penderitaan tidak dapat dihindari, reaksi negatif pun muncul.
Ada sebuah perumpamaan yang menggambarkan kehidupan manusia yang sangat singkat ini dengan latar belakang kenikmatan duniawi. Ada seorang laki-laki ingin melalui hutan lebat yang penuh duri dan batu. Tiba-tiba ia sangat takut karena seekor gajah muncul dan mengejarnya. Ia berlari ketakutan dan ketika melihat sebuah sumur, ia berlari bersembunyi di dalamnya. Dalam suasana ketakutan ia melihat seekor ular berbisa pada dasar sumur. Disebabkan tidak ada jalan untuk pergi maka ia berpegangan pada tumbuh-tumbuhan yang menjalar. Di atasnya terlihat dua ekor tikus yang seekor putih dan yang lain hitam sedang menggerogoti tumbuhan menjalar tersebut sedangkan di atasnya ada sarang lebah yang meneteskan madu.
Laki-laki ini, dengan tolol tanpa menghiraukan posisinya yang berbahaya ini dengan rakus mencicipi madu tersebut. Ada seorang yang baik dengan suka hati menunjukkan jalan kepadanya untuk meloloskan diri. Tetapi laki-laki tersebut memohon akan ke sana bila telah selesai menyenangkan dirinya. Jalan yang berduri itu adalah samsara (lautan kehidupan). Gajah di sini diumpamakan kematian, ular berbisa adalah usia tua, tumbuhan menjalar adalah kelahiran, dua ekor tikus merupakan malam dan siang, sedangkan madu dapat diumpamakan kesenangan-kesenangan hawa nafsu yang cepat berlalu. Orang yang baik adalah Sang Buddha. Perumpamaan di atas menggambarkan kehidupan kita yang selalu tertipu oleh sesuatu yang sebenarnya tidak membawa manfaat.
Hidup adalah perjalanan yang tak berujung, penuh dengan masalah. Sepanjang kita hidup di dunia ini, masalah dan kesulitan akan menjadi bagian dan bingkisan pengalaman kita. Pada saat tertentu, kita mungkin diberkahi dengan keuntungan, kemasyuran, pujian, dan kegembiraan. Namun, perlu diingat semuanya masih mengalami hukum perubahan. Jangan lengah dan terlena oleh kenikmatan indriawi yang bersifat sementara.
Kita memerlukan keberadaan kekuatan untuk memperjuangkan sesuatu yang bermanfaat bagi hidup. Apakah kita mempunyai keberanian dan kekuatan untuk bisa tersenyum ketika sedang menghadapi kesulitan? Tidak terlalu sukar, jika kita mengurangi egoisme diri yang menganggap bahwa kita seorang yang memerlukan penghiburan. Seharusnya kita menghitung kelebihan daripada kekurangan kita. Ingatlah selalu ungkapan, “aku mengeluh tak punya sepatu hingga bertemu dengan orang yang tidak punya kaki.” Dengan berpikir demikian, kita akan menyadari bahwa banyak orang yang keadaannya jauh lebih tidak beruntung. Dan dengan pengertian seperti ini, masalah pribadi bisa kita kurangi sedikit.
Banyak orang yang mendapatkan pengalaman akademik tanpa pengalaman pribadi. Mereka dipersenjatai dengan pengetahuan akademik, sehingga sebagian orang berpikir mereka mampu menghadapi kesulitan dalam perjuangannya menuju kualitas hidup. Pengetahuan akademik bisa menyiapkan materi untuk menyelesaikan masalah, tapi ia tak mampu menyelesaikan masalah spiritual.
Orang yang bijaksana telah mengalami berbagai macam pengalaman yang tak tergantikan. Renungkanlah pepatah ini, “Ketika saya berumur delapan belas tahun, saya pikir betapa bodohnya ayahku!” Sekarang saya berumur dua puluh delapan, saya kaget, betapa banyak yang dipelajari orang tua itu dalam sepuluh tahun. “Bukan ayah yang tahu, andalah yang telah belajar melihat segala sesuatu dengan cara yang dewasa.
Memang, butuh waktu dan kedewasaan untuk memperjuangkan kualitas hidup, tidak seperti makanan instan yang sekali seduh dapat dimakan. Namun, hasil dari perjuangan yang lama ini lebih membawa ke arah yang baik bagi kemajuan kualitas hidup kita. Hidup adalah perjuangan, oleh karena itu kita harus memperjuangkannya, tentunya ke arah yang positif sampai tercapainya cita-cita spiritual. Ada sebuah kalimat Dhamma yang bisa dijadikan renungan, “Kehidupan ini tidak kekal, berjuanglah dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kesempurnaan.” (Mahâ Parinibbâna Sutta)
Membangun Kekayaan Mental
Dalam mengarungi hidup ini diperlukan ketangguhan dan kesabaran. Ada hal yang patut dijadikan renungan, “Jangan mengharapkan kesuksesan dengan cara yang tidak sesuai dengan Dhamma” (Khuddaka Nikâya). Setiap orang berharap hidupnya sukses tetapi untuk mencapai kesuksesan banyak hal yang harus kita hadapi: hambatan, tantangan, rintangan, kesulitan akan banyak kita hadapi. Menghadapi hidup diperlukan perjuangan dan untuk berjuang diperlukan kekuatan. Kekuatan seperti apa yang harus kita munculkan dalam hidup ini?
Kekuatan yang harus kita munculkan adalah kekuatan mental. Kita harus sabar, ulet, tekun, dan disiplin dalam menghadapi kehidupan ini. Permasalahan hidup datangnya tidak terduga dan terkadang kekuatannya melebihi kekuatan mental kita. Banyak orang yang oleh karena itu mengalami stres dan bahkan melakukan bunuh diri.
Ketahanan mental akan teruji saat kita menghadapi tantangan hidup. Tantangan ini akan menambah kekuatan mental kita. Kekuatan mental ini dapat berkembang jika kita mau memahami Dhamma dan juga merealisasikan Dhamma dalam kehidupan kita. Latihan yang terus-menerus akan menghasilkan kekuatan mental yangdigunakan untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan ini.
“Bangun! Berjagalah! Apa gunanya mimpi-mimpimu? Bagaimana engkau dapat meneruskan tidurmu bila engkau sedang sakit ditusuk oleh panah kesedihan” (Sutta Nipâta 331). Jangan sampai kita lengah dalam menghadapi kehidupan ini, karena kelengahan membuat kita menjadi hancur. Kita seharusnya berjaga-jaga setiap saat dan terus berjalan untuk menunaikan perjuangan kita. Seorang Buddhis adalah orang yang penuh semangat dalam menghadapi tantangan hidup, tidak ada kata loyo, lemah, lemas, lelah, lamban, dan lesu.
Sang Buddha selalu menekankan Viriya (semangat) dalam setiap latihan dan tantangan hidup ini juga harus dihadapi dengan semangat. Memang, setiap orang tidak berharap mendapatkan permasalahan dalam hidup, namun permasalahannya di sini adalah bagaimana menghadapi tantangan hidup dengan ketahanan mental yang kita miliki setiap saat. Tekad dan semangat harus kita munculkan dan kekuatan inilah yang nanti dapat dijadikan senjata menghadapi tantangan hidup.
Perjuangan Sang Buddha dapat dijadikan teladan dalam hidup ini. Dari tekad awal untuk menjadi Buddha di hadapan Buddha Dipankara sampai mencapai pencerahan membutuhkan waktu yang lama serta tantangan yang berat, tetapi karena kekuatan tekad dan semangat untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan, maka perjuangan Beliau berhasil dengan sukses.
Beliau tidak hanya berkorban materi tetapi juga tenaga bahkan kehidupan Beliau pun dikorbankan. Perjuangan Beliau tidak mudah, bahkan sesudah mencapai pencerahan pun Sang Buddha masih harus menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dalam menyebarkan Dhamma Beliau harus menghadapi kesulitan, cacian, fitnah, dan bahkan ancaman pembunuhan. Sang Buddha tetap tegar dalam menghadapi tantangan-tantangan yang muncul dan Beliau mencapai puncak kemenangan.
Teladan Sang Buddha juga diikuti para siswanya, banyak siswa-siswa Beliau yang menghadapi tantangan yang juga berat. Perjuangan terus dilakukan oleh siswa-siswa Beliau dan menghasilkan kesuksesan yang gemilang. Sebagai contoh yang dialami oleh Cullapanthaka, Beliau terkenal bodoh dan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha tidak dapat dimengertinya. Beliau harus mengalami tekanan, ejekan, dan makian karena kebodohannya. Bhikkhu Cullapanthaka menjadi putus asa menghadapi kondisi ini. Kemudian keadaan Cullapanthaka diketahui oleh Sang Buddha dan Beliau memberi pengertian kepada Cullapanthaka. Bhikkhu Cullapanthaka memahami maksud Sang Buddha dan berlatih seperti apa yang sang Buddha ajarkan. Dengan sekuat tenaga dan ketekunan Bhikkhu Cullapanthaka berjuang keras menghadapi tantangan yang dirasakan berat. Akhirnya Bhikkhu Cullapanthaka mencapai kesuksesan yang gemilang.
Ketahanan mental harus terus kita perjuangkan sampai kita mencapai kesuksesan. Memang tidak mudah, namun sikap mental yang positif akan sangat berguna dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan ini. Menyadari bahwa segala sesuatunya hanyalah proses dan terus akan mengalami perubahan, inilah yang akan menjadi bekal kita dalam menghadapi kondisi hidup ini. Memiliki ketahanan mental adalah titik awal keberhasilan kita untuk mencapai kesuksesan hidup, baik duniawi maupun spiritual.
Tumbuh kembangkanlah kedisiplinan, kesabaran, ketekunan, keuletan dalam menghadapi hidup ini. Untuk mendapatkan kekuatan ketahanan mental seperti itu, kita harus belajar Dhamma dan mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan ini. Latihan yang sangat baik sekali untuk membangun mental kita adalah dengan melakukan bhavana atau meditasi setiap saat dalam kehidupan. Mulailah dengan membiasakan bhavana dalam kehidupan ini dan kekuatan ketahanan mental akan berkembang dan terus berkembang yang pada akhirnya menjadi sebuah kekuatan Dhamma. Kekuatan inilah yang kita gunakan untuk menghadapi hidup.
Sumber:
Dhammasari, MP. Sumedha Vidya Dharma.
Permata Dhamma Yang Indah,
Ven. S Dhammika Sang Buddha dan Ajaran-AjaraNya, Ven. Narada Mahâthera