26/07/11

Sikap Mental Positif YM. Bhikkhu Abhayanando

Amogham divasam kayira, appena bahukenava Yam yam vijahite rattim, tadunan tassa jivitam
Jadikanlah harimu produktif, apakah sedikit atau banyak. Karena setiap siang dan malamyang berlalu, kehidupanmu berkurang sebanyak itu.
(Thera Gatha. 451) ?
Siapakah Manusia Itu?

Kenapa arti manusia dipertanyakan? Bukankah kita adalah manusia? Memang, kita adalah manusia, tetapi kita belum mengetahui arti sebenarnya manusia itu sendiri. Bila dilihat dari luar, manusia adalah seperti yang kita lihat sekarang ini.Tubuh materi ini terdiri dari kekuatan dan sifat yang selalu berubah-ubah. Para ilmuwan sulit mendefinisikan materi ini. Ahli filsafat pernah mendefinisikan “zat yang selalu mengalami perubahan-perubahan disebut gerak.” Istilah Pâli untuk zat adalah Rûpa, diterangkan (berubah dan hancur).
Di sini, kita hanya membicarakan arti manusia secara harfiah, bukan arti manusia secara mendetail. Secara harfiah, manusia terdiri dari dua kata yaitu mano dan ussa, mano artinya batin, sedangkan ussa artinya luhur. Jadi, arti manusia adalah makhluk yang luhur.

Setelah mengetahui artinya, ternyata banyak manusia yang sesuai dengan makna manusia itu sendiri. Masih banyak manusia yang batinnya tidak karuan, mereka masih mengumbar ambisi-ambisinya. Banyaknya terjadi penyimpangan dikarenakan mental manusia yang merosot. Secara fisik kita ini manusia, tetapi secara batin kita belum, karena batin kita masih suka mengembara ke arah keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin.
Bila diarahkan dengan baik manusia akan mencapai cita-cita luhur. Hanya saja untuk mengarahkannya memerlukan waktu dan kemampuan manusia itu sendiri. Tetapi mereka umunya tidak menyadari bahwa di dalam dirinya ada kekuatan untuk menghadapi hidup ini.
Terlahir sebagai manusia merupakan kebahagiaan, karena sulit sekali untuk terlahir menjadi manusia apalagi dapat mengenal Dhamma. Dalam Khuddhaka Nikâya, Sang Buddha bersabda, “Dalam sisa-sisa kehidupan ini seseorang hendaknya menunaikan tugas-tugasnya dengan baik dan tidak ceroboh.” Sang Buddha menganjurkan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin, sehingga cita-cita untuk menjadi manusia Dhamma akan berhasil. Dhamma dapat dijadikan ‘tameng’ untuk menghadapi tantangan hidup.
Kehidupan Tidak Pasti
Walaupun kita sudah terlahir sebagai manusia, bukan berarti kita sudah bebas semau kita. Ada beberapa hal yang seharusnya kita renungkan sebagai manusia. Siapkah mental kita menghadapi realita hidup? Hidup adalah perjuangan maka harus diperjuangkan. Walaupun untuk memperjuangkannya banyak hal yang akan kita hadapi, tetapi jika kemampuan terus kita pupuk, maka kita akan menjadi kuat menghadapinya.
Sang Buddha dengan tegas dan jelas menyatakan bahwa hidup ini adalah “dukkha”. Kenapa hidup ini dukkha? Tentunya Sang Buddha sudah jelas melihat kehidupan ini, sehingga beliau berani mengatakan hidup ini adalah dukkha. Tidak dapat disangkal bahwa kata Pâli “dukkha” dalam percakapan sehari-hari berarti “derita”, “sakit”, “sedih” sebagai lawan dari kata “sukha” yang berarti “bahagia”, “senang” atau “gembira”. Tetapi kata “dukkha” yang dipakai dalam Kebenaran Mulia Pertama, merupakan pandangan Sang Buddha tentang kehidupan, serta mempunyai arti filosofis yang mendalam dan mencakup bidang yang sangat luas. Kata `dukkha” selain berarti “derita” bisa juga mempunyai arti yang lebih dalam lagi, seperti “tidak sempurna”, “tidak kekal”, “kosong”, “tanpa inti”. Sulit sekali mencari arti yang tepat untuk mencakup kata dukkha.
Inilah yang kadangkala membuat banyak orang salah menafsirkan agama Buddha. Ada anggapan bahwa agama Buddha ini loyo, suram, pesimis, dan kata-kata yang bernada miring lainnya. Kalau agama Buddha adalah agama yang pesimis, tentunya tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang. Saat sekarang ini manusia dituntut untuk menghadapi persaingan yang begitu ketat. Manusia dituntut untuk maju dan bergerak dengan cepat.
Agama yang loyo tentunya tidak dapat mengikuti perkembangan zaman globalisasi. Mana mungkin bisa maju, jika tidak ada semangat, gairah dalam perjuangan hidup. Tantangan hidup yang semakin keras memerlukan kekuatan untuk menghadapinya. Kekuatan itu adalah kekuatan semangat dan kerja keras. Apakah agama Buddha ada kekuatan semacam itu? Kenapa Sang Buddha berkata bahwa hidup ini adalah dukkha? Tentunya kita harus menyelami lebih jauh apa yang diajarkan Sang Buddha.
Benarkah agama Buddha seperti yang mereka katakan? Sangat wajar kalau mereka mengemukakan pandangan seperti itu karena mereka tidak memahami dengan benar ajaran Sang Buddha. Mereka hanya melihat sepintas dari Dhamma yang diajarkan Sang Buddha. Survei membuktikan bahwa agama Buddha tidak seperti yang mereka katakan. Kalau memang agama Buddha ini adalah agama yang suram tentunya tidak ada anjuran berbuat baik atau latihan spiritual. Ternyata Dhamma mengajak kita untuk terus berbuat baik, menjaga moralitas, dan juga menjaga pikiran.
Sang Buddha sendiri berjuang dan perjuangan beliau sangat lama. Banyak hal yang beliau hadapi sebagai tantangan yang sangat besar dan berat. Beliau tetap berjuang dengan penuh semangat dan akhirnya perjuangan Beliau mencapai puncak keberhasilan. Perjuangan yang panjang dan sangat melelahkan, kalau tidak ada semangat mana mungkin ada keberhasilan. Ini membuktikan bahwa agama Buddha tidak pesimistis.
Memang, hidup ini tidak pasti. Siapa yang bisa memastikan kehidupan ini? Tidak ada yang bisa memastikan. Hidup ini terus mengalami perubahan dan jika kita tidak bisa menerima perubahan itu, kita menjadi stres luar biasa. Pada umumnya kita tidak mau adanya perubahan dan ingin segala sesuatunya tetap. Sikap seperti inilah yang membuat kita cemas, bingung, khawatir, dan ragu menghadapi hidup.
Sikap batin yang positif sangat berguna bagi kita untuk menghadapi ketidakpastian hidup. Diperlukan kekuatan yang benar-benar mengarahkan kita kepada perjuangan hidup dan membutuhkan waktu yang lama. Perjuangan kita belum usai sebelum kita mencapai pencerahan. Namun, yang terpenting bagi diri kita adalah membiasakan membangun mental untuk menghadapi hidup ini.
Hidup Adalah Perjuangan
Kehidupan adalah milik manusia yang paling dicintai tetapi jika dihadapkan dengan kesukaran-kesukaran yang tidak dapat diatasi, hidup itu menjadi beban yang sangat berat. Kadang-kala ia mencari pembebasan dengan mengakhiri hidupnya; seolah-olah bunuh diri dapat menyelesaikan masalah pribadinya.
Manusia menginginkan hidup damai dan bahagia dengan orang-orang terdekatnya, tetapi jika kemalangan, ambisi, dan penderitaan tidak dapat dihindari, reaksi negatif pun muncul.
Ada sebuah perumpamaan yang menggambarkan kehidupan manusia yang sangat singkat ini dengan latar belakang kenikmatan duniawi. Ada seorang laki-laki ingin melalui hutan lebat yang penuh duri dan batu. Tiba-tiba ia sangat takut karena seekor gajah muncul dan mengejarnya. Ia berlari ketakutan dan ketika melihat sebuah sumur, ia berlari bersembunyi di dalamnya. Dalam suasana ketakutan ia melihat seekor ular berbisa pada dasar sumur. Disebabkan tidak ada jalan untuk pergi maka ia berpegangan pada tumbuh-tumbuhan yang menjalar. Di atasnya terlihat dua ekor tikus yang seekor putih dan yang lain hitam sedang menggerogoti tumbuhan menjalar tersebut sedangkan di atasnya ada sarang lebah yang meneteskan madu.
Laki-laki ini, dengan tolol tanpa menghiraukan posisinya yang berbahaya ini dengan rakus mencicipi madu tersebut. Ada seorang yang baik dengan suka hati menunjukkan jalan kepadanya untuk meloloskan diri. Tetapi laki-laki tersebut memohon akan ke sana bila telah selesai menyenangkan dirinya. Jalan yang berduri itu adalah samsara (lautan kehidupan). Gajah di sini diumpamakan kematian, ular berbisa adalah usia tua, tumbuhan menjalar adalah kelahiran, dua ekor tikus merupakan malam dan siang, sedangkan madu dapat diumpamakan kesenangan-kesenangan hawa nafsu yang cepat berlalu. Orang yang baik adalah Sang Buddha. Perumpamaan di atas menggambarkan kehidupan kita yang selalu tertipu oleh sesuatu yang sebenarnya tidak membawa manfaat.
Hidup adalah perjalanan yang tak berujung, penuh dengan masalah. Sepanjang kita hidup di dunia ini, masalah dan kesulitan akan menjadi bagian dan bingkisan pengalaman kita. Pada saat tertentu, kita mungkin diberkahi dengan keuntungan, kemasyuran, pujian, dan kegembiraan. Namun, perlu diingat semuanya masih mengalami hukum perubahan. Jangan lengah dan terlena oleh kenikmatan indriawi yang bersifat sementara.
Kita memerlukan keberadaan kekuatan untuk memperjuangkan sesuatu yang bermanfaat bagi hidup. Apakah kita mempunyai keberanian dan kekuatan untuk bisa tersenyum ketika sedang menghadapi kesulitan? Tidak terlalu sukar, jika kita mengurangi egoisme diri yang menganggap bahwa kita seorang yang memerlukan penghiburan. Seharusnya kita menghitung kelebihan daripada kekurangan kita. Ingatlah selalu ungkapan, “aku mengeluh tak punya sepatu hingga bertemu dengan orang yang tidak punya kaki.” Dengan berpikir demikian, kita akan menyadari bahwa banyak orang yang keadaannya jauh lebih tidak beruntung. Dan dengan pengertian seperti ini, masalah pribadi bisa kita kurangi sedikit.
Banyak orang yang mendapatkan pengalaman akademik tanpa pengalaman pribadi. Mereka dipersenjatai dengan pengetahuan akademik, sehingga sebagian orang berpikir mereka mampu menghadapi kesulitan dalam perjuangannya menuju kualitas hidup. Pengetahuan akademik bisa menyiapkan materi untuk menyelesaikan masalah, tapi ia tak mampu menyelesaikan masalah spiritual.
Orang yang bijaksana telah mengalami berbagai macam pengalaman yang tak tergantikan. Renungkanlah pepatah ini, “Ketika saya berumur delapan belas tahun, saya pikir betapa bodohnya ayahku!” Sekarang saya berumur dua puluh delapan, saya kaget, betapa banyak yang dipelajari orang tua itu dalam sepuluh tahun. “Bukan ayah yang tahu, andalah yang telah belajar melihat segala sesuatu dengan cara yang dewasa.
Memang, butuh waktu dan kedewasaan untuk memperjuangkan kualitas hidup, tidak seperti makanan instan yang sekali seduh dapat dimakan. Namun, hasil dari perjuangan yang lama ini lebih membawa ke arah yang baik bagi kemajuan kualitas hidup kita. Hidup adalah perjuangan, oleh karena itu kita harus memperjuangkannya, tentunya ke arah yang positif sampai tercapainya cita-cita spiritual. Ada sebuah kalimat Dhamma yang bisa dijadikan renungan, “Kehidupan ini tidak kekal, berjuanglah dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kesempurnaan.” (Mahâ Parinibbâna Sutta)
Membangun Kekayaan Mental
Dalam mengarungi hidup ini diperlukan ketangguhan dan kesabaran. Ada hal yang patut dijadikan renungan, “Jangan mengharapkan kesuksesan dengan cara yang tidak sesuai dengan Dhamma” (Khuddaka Nikâya). Setiap orang berharap hidupnya sukses tetapi untuk mencapai kesuksesan banyak hal yang harus kita hadapi: hambatan, tantangan, rintangan, kesulitan akan banyak kita hadapi. Menghadapi hidup diperlukan perjuangan dan untuk berjuang diperlukan kekuatan. Kekuatan seperti apa yang harus kita munculkan dalam hidup ini?
Kekuatan yang harus kita munculkan adalah kekuatan mental. Kita harus sabar, ulet, tekun, dan disiplin dalam menghadapi kehidupan ini. Permasalahan hidup datangnya tidak terduga dan terkadang kekuatannya melebihi kekuatan mental kita. Banyak orang yang oleh karena itu mengalami stres dan bahkan melakukan bunuh diri.
Ketahanan mental akan teruji saat kita menghadapi tantangan hidup. Tantangan ini akan menambah kekuatan mental kita. Kekuatan mental ini dapat berkembang jika kita mau memahami Dhamma dan juga merealisasikan Dhamma dalam kehidupan kita. Latihan yang terus-menerus akan menghasilkan kekuatan mental yangdigunakan untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan ini.
“Bangun! Berjagalah! Apa gunanya mimpi-mimpimu? Bagaimana engkau dapat meneruskan tidurmu bila engkau sedang sakit ditusuk oleh panah kesedihan” (Sutta Nipâta 331). Jangan sampai kita lengah dalam menghadapi kehidupan ini, karena kelengahan membuat kita menjadi hancur. Kita seharusnya berjaga-jaga setiap saat dan terus berjalan untuk menunaikan perjuangan kita. Seorang Buddhis adalah orang yang penuh semangat dalam menghadapi tantangan hidup, tidak ada kata loyo, lemah, lemas, lelah, lamban, dan lesu.
Sang Buddha selalu menekankan Viriya (semangat) dalam setiap latihan dan tantangan hidup ini juga harus dihadapi dengan semangat. Memang, setiap orang tidak berharap mendapatkan permasalahan dalam hidup, namun permasalahannya di sini adalah bagaimana menghadapi tantangan hidup dengan ketahanan mental yang kita miliki setiap saat. Tekad dan semangat harus kita munculkan dan kekuatan inilah yang nanti dapat dijadikan senjata menghadapi tantangan hidup.
Perjuangan Sang Buddha dapat dijadikan teladan dalam hidup ini. Dari tekad awal untuk menjadi Buddha di hadapan Buddha Dipankara sampai mencapai pencerahan membutuhkan waktu yang lama serta tantangan yang berat, tetapi karena kekuatan tekad dan semangat untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan, maka perjuangan Beliau berhasil dengan sukses.
Beliau tidak hanya berkorban materi tetapi juga tenaga bahkan kehidupan Beliau pun dikorbankan. Perjuangan Beliau tidak mudah, bahkan sesudah mencapai pencerahan pun Sang Buddha masih harus menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dalam menyebarkan Dhamma Beliau harus menghadapi kesulitan, cacian, fitnah, dan bahkan ancaman pembunuhan. Sang Buddha tetap tegar dalam menghadapi tantangan-tantangan yang muncul dan Beliau mencapai puncak kemenangan.
Teladan Sang Buddha juga diikuti para siswanya, banyak siswa-siswa Beliau yang menghadapi tantangan yang juga berat. Perjuangan terus dilakukan oleh siswa-siswa Beliau dan menghasilkan kesuksesan yang gemilang. Sebagai contoh yang dialami oleh Cullapanthaka, Beliau terkenal bodoh dan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha tidak dapat dimengertinya. Beliau harus mengalami tekanan, ejekan, dan makian karena kebodohannya. Bhikkhu Cullapanthaka menjadi putus asa menghadapi kondisi ini. Kemudian keadaan Cullapanthaka diketahui oleh Sang Buddha dan Beliau memberi pengertian kepada Cullapanthaka. Bhikkhu Cullapanthaka memahami maksud Sang Buddha dan berlatih seperti apa yang sang Buddha ajarkan. Dengan sekuat tenaga dan ketekunan Bhikkhu Cullapanthaka berjuang keras menghadapi tantangan yang dirasakan berat. Akhirnya Bhikkhu Cullapanthaka mencapai kesuksesan yang gemilang.
Ketahanan mental harus terus kita perjuangkan sampai kita mencapai kesuksesan. Memang tidak mudah, namun sikap mental yang positif akan sangat berguna dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan ini. Menyadari bahwa segala sesuatunya hanyalah proses dan terus akan mengalami perubahan, inilah yang akan menjadi bekal kita dalam menghadapi kondisi hidup ini. Memiliki ketahanan mental adalah titik awal keberhasilan kita untuk mencapai kesuksesan hidup, baik duniawi maupun spiritual.
Tumbuh kembangkanlah kedisiplinan, kesabaran, ketekunan, keuletan dalam menghadapi hidup ini. Untuk mendapatkan kekuatan ketahanan mental seperti itu, kita harus belajar Dhamma dan mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan ini. Latihan yang sangat baik sekali untuk membangun mental kita adalah dengan melakukan bhavana atau meditasi setiap saat dalam kehidupan. Mulailah dengan membiasakan bhavana dalam kehidupan ini dan kekuatan ketahanan mental akan berkembang dan terus berkembang yang pada akhirnya menjadi sebuah kekuatan Dhamma. Kekuatan inilah yang kita gunakan untuk menghadapi hidup.
Sumber:
Dhammasari, MP. Sumedha Vidya Dharma.
Permata Dhamma Yang Indah,
Ven. S Dhammika Sang Buddha dan Ajaran-AjaraNya, Ven. Narada Mahâthera

Kisah Nanda Thera – Dhammapada Atthakatha

Suatu ketika Sang Buddha menetap di Vihara Veluvana, Rajagaha. Waktu itu ayah-Nya, Raja Suddhodana, berulangkali mengirim utusan kepada Sang Buddha, meminta beliau mengunjungi kota Kapilavatthu. Memenuhi permintaan ayahnya, Sang Buddha mengadakan perjalanan dengan diikuti oleh sejumlah besar arahat.
Saat tiba di Kapilavatthu, Sang Buddha bercerita tentang Vessantara Jataka di hadapan pertemuan saudara-saudaranya. Pada hari kedua, Sang Buddha memasuki kota, dengan mengucapkan syair berawal “Uttitthe Nappamajjeyya…” (artinya seseorang harus sadar dan tidak seharusnya menjadi tidak waspada…). Beliau menyebabkan ayah-Nya mencapaitingkat kesucian sotapatti.

Ketika tiba di dalam istana, Sang Buddha mengucapkan syair lainnya berawal “Dhammam Care Sucaritam…” (artinya seseorang seharusnya mempraktekkan Dhamma…), dan sang raja berhasil mencapai tingkat kesucian sakadagami. (*** notes : sebenarnya cerita mengenai Sang Buddha pulang mengunjungi keluargaNya ini aslinya panjang sekali lho.. tetapi dipersingkat di Dhammapada Atthakatha ini, so, wajar kalau bingung karena diatas tadi agak loncat-loncat)

Setelah bersantap makanan, Sang Buddha menceritakan tentang Candakinnari Jataka, berkenaan kisah kebajikan ibunya Rahula.
Pada hari ketiga, di istana berlangsung upacara pernikahan Pangeran Nanda, sepupu Sang Buddha. Sang Buddha pergi ke sana untuk menerima dana makanan (pindapatta), dan memberikan mangkok-Nya kepada pangeran Nanda. Kemudian Sang Buddha pergi meninggalkannya tanpa meminta kembali mangkok-Nya.
Karena itu sang pangeran, sambil memegangi mangkok, berjalan mengikuti Sang Buddha. Pengantin putri, Janapadakalyani, melihat sang pangeran pergi mengikuti Sang Buddha, terus berlari dan berteriak pada sang pangeran untuk kembali secepatnya. Ketika tiba di vihara, Sang Pangeran diterima dalam Sangha sebagai seorang bhikkhu.
Kemudian Sang Buddha berpindah ke vihara yang didirikan oleh Anathapindika, di hutan Jeta dekat Savatthi.
Selama tinggal di sana Nanda merasa tidak senang, dan setengah kecewa serta menemukan sedikit kesenangan dalam hidup sebagai seorang bhikkhu. Ia ingin kembali pada kehidupan berumah-tangga, karena ia terus teringat kata-kata dari Putri Janapadakalyani, memohonnya untuk kembali secepatnya. Hatinya menjadi goyah. Dan semakin goyah.
Mengetahui hal tersebut, Sang Buddha dengan kemampuan batin luar biasa, memperlihatkan kepada Nanda beberapa dewi yang cantik dari surga Tavatimsa, jauh lebih cantik daripada putri Janapadakalyani.
Sang Buddha bertanya kepada Nanda, “Siapakah yang lebih cantik, putri Janapadakalyani atau para dewi yang berdiri di hadapanmu itu?”
“Tentu saja mereka jauh lebih cantik dibandingkan dengan putri Janapadakalyani,” jawab Nanda.
Sang Buddha berkata lagi kepada Nanda, “Apabila engkau tekun dalam mempraktekkan Dhamma, Aku berjanji untuk membantumu memiliki dewi-dewi itu.”
Mendengar pernyataan itu, Nanda tertarik dan sekali lagi berjanji akan mematuhi Sang Buddha.
Bhikkhu-bhikkhu yang lain menertawakan Nanda, dengan berkata bahwa ia seperti orang bayaran, yang mempraktekkan Dhamma demi memperoleh wanita cantik, dan sebagainya.
Nanda merasa sangat tertekan dan malu. Karena itu dalam kesendirian, ia mencoba dengan keras mempraktekkan Dhamma, dan akhirnya mencapai tingkat kesucian arahat.
Sebagai seorang arahat, batinnya bebas dari semua ikatan dan keinginan. Dan Sang Buddha juga bebas dari janji-Nya kepada Nanda. Semua ini telah diketahuiNya sejak awal.
Bhikkhu-bhikkhu yang lainnya, yang semula mengetahui bahwa Nanda tidak gembira menjalani hidup sebagai bhikkhu, kembali bertanya bagaimana ia bisa mengatasinya.
Nanda Thera menjawab, bahwa sekarang ia tidak lagi terikat dengan kehidupan berumah-tangga. Mereka berpikir Nanda tidak berkata yang sebenarnya. Karena itu mereka mencari keterangan perihal masalah itu kepada Sang Buddha, dengan menyatakan keragu-raguan mereka.
Sang Buddha menjelaskan kepada mereka bahwa sebelumnya, kenyataan alamiah Nanda, sama seperti atap rumah yang bocor, tetapi sekarang rumah itu telah dibangun dengan atap rumah yang baik.
Penjelasan itu diakhiri dengan syair berikut ini:
Bagaikan hujan yang dapat menembus rumah beratap tiris.
demikian pula nafsu, akan dapat menembus pikiran yang tidak dikembangkan dengan baik.
Bagaikan hujan yang tidak dapat menembus rumah beratap baik.
demikian pula nafsu, tidak dapat menembus pikiran yang telah dikembangkan dengan baik.

Sang Buddha dan Seekor Kodok



Ini sebuah kisah Zen. Alkisahnya, ada seekor kodok yang baru saja pergi dari berjalan-jalan di daratan. Ketika kembali berenang di kolam, dia bertemu dengan seekor ikan mas yang telah mengenalnya. “Halo Tuan Kodok, Anda dari mana saja?”, “Oh, saya baru saja datang dari berjalan-jalan di daratan”,jawab Sang Kodok. “Daratan? Apa itu daratan? Saya belum pernah mendengar ada tempat yang bernama daratan”. “Daratan ialah tempat di mana Anda dapat berjalan-jalan diatasnya”, Sang Kodok mencoba menerangkan tentang daratan pada Si Ikan Mas. “Oh ya, dapat berjalan-jalan diatasnya? Saya tidak percaya bahwa Anda baru saja dari daratan. Menurut saya, tidak ada tempat yang disebut daratan”, Si Ikan Mas membantah dengan sengit. “Baiklah jika Anda tidak percaya, yang pasti saya tadi memang datang dari daratan”, balas Sang Kodok dengan sabar. “Tetapi, Tuan Kodok, coba katakan pada saya, apakah daratan itu dapat dibuat gelembung, jika saya bernafas didalamnya?” “Tidak”. “Apakah saya dapat menggerakkan sirip-sirip saya didalamnya?” “Tidak”. “Apakah tembus cahaya?” “Tidak”. “Apakah saya dapat bergerak mengikuti gelombang?” “Tidak, tentu saja”, jawab Sang Kodok dengan sabar. “Nah, Tuan Kodok, saya sudah menanyakan Anda tentang daratan, dan semua jawaban Anda adalah “Tidak”, dan itu berarti daratan itu tidak ada”, Si Ikan Mas menjawab dengan perasaan puas. “Baiklah, jika Anda berkesimpulan seperti itu. Yang jelas, saya tadi memang datang dari daratan dan daratan itu nyata adanya”,Sang Kodok menjawab sambil berlalu.

Si Ikan Mas, karena dia adalah seekor ikan yang hidupnya di air, maka dia tidak pernah mengetahui bahwa ada dunia lain selain dunia airnya. Kareena dia hanya mengenal dunia air, maka semua pertanyaan ynag diajukan tentang daratan, tetap berkaitan dengan dunia air. Sebaliknya Sang Kodok, dia dapat hidup di dua dunia, dunia air dan daratan. Karenanya, Sang Kodok mengerti bahwa ada dunia lain selain dunia air tempat para ikan hidup. Dia mengerti sepenuhnya dunia air, dia juga mengerti sepenuhnya daratan, karena dia sudah mengalami pengalaman empiris di dua dunia itu.
Demikian pula dengan Buddha. Buddha mengerti sepenuhnya alam duniawi beserta segala fenomenanya dan Nibbana sebagai pembebasan dari segala fenomena. Karena Beliau telah mengalami pengalaman empiris kehidupan duniawi dan pencapaian Nibbana. Kita adalah si ikan mas yang keras kepala. Sepanjang kita belum pernah mengalami pencapaian Nibbana, seberapa hebatnya Buddha menerangi tentang Nibbana, kita tak kan mengerti. Bukan berarti Buddha gagal mencerahi kita. Kebodohan kita sendirilah yang menghalangi pencerahan yang mestinya terjadi.
Mutiara pencerahan itu ada dalam diri kita. Buddha telah menunjukkan jalannya. Kini yang perlu kita lakukan hanyalah meneguhkan hati untuk menjalani jalan yang telah ditunjukkan tersebut. Mengalami sendiri pencapaian Nibbana dan mengerti apakah Nibbana itu dengan sepenuhnya. Dan menjadi orang yang menmenangi pertarungan yang sejati.
Source : Dikutip dari dhammacitta.org,penulis : Chuang

Bhikkhu Yang Buta

Pada zaman Sang Buddha, terdapatlah seorang Bhikkhu Arahat yang bernama Cakkhupala yang matanya buta. Suatu hari, YM. Cakkhupala datang mengunjungi Sang Buddha di vihara Jetavana untuk memberi hormat. Suatu malam, ketika ia melakukan meditasi-jalan (cankamana), ia dengan tidak sengaja menginjak beberapa ekor serangga.

Pada pagi harinya, beberapa orang bhikkhu yang datang mengunjunginya melihat ada beberapa ekor serangga yang mati. Mereka berpikir jelek terhadapnya dan melaporkan hal ini kepada Sang Buddha. Sang Buddha menanyakan apakah mereka melihat Cakkhupala membunuh serangga-serangga itu. Mereka mengatakan tidak. Sang Buddha lalu berkata, "Sama seperti kalian tidak melihat ia membunuh, begitu juga ia tidak melihat adanya serangga-serangga itu. Lagipula, sebagai seorang Arahat, ia tidak mempunyai kehendak/niat (cetana) untuk membunuh serta tidak bersalah karena melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat itu". Ketika ditanya mengapa Cakkhupala buta padahal ia seorang Arahat, Sang Buddha menceritakan kisah berikut untuk menjelaskan kealamiahan dari Hukum Kamma.

Cakkhupala pada kehidupan lampaunya adalah seorang dokter. Suatu kali ia dengan sengaja telah membuat buta mata seorang pasien wanita. Alkisah, wanita itu pernah berjanji akan menjadi pelayannya bersama anak-anaknya jika penyakit matanya yang buta dapat disembuhkan. Karena takut bahwa ia dan anak-anaknya akan menjadi pelayan, maka ia berbohong kepada dokter itu. Dia mengatakan bahwa keadaan matanya semakin memburuk, padahal kenyataannya, matanya telah sembuh. Sang dokter tahu bahwa wanita itu membohonginya. Karena itu, sebagai pembalasan dendamnya, ia memberikan obat mata lain kepada wanita itu, yang membuat kedua matanya buta total. Sebagai akibatnya dari perbuatan jahat ini, sang dokter kehilangan penglihatannya (buta) dalam banyak kelahiran berikutnya.

Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair berikut:

"Semua fenomena/bentuk-bentuk batin memiliki pikiran sebagai pelopornya; memiliki pikiran sebagai pemimpinnya; dibuat oleh pikiran. Jika seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran jahat, maka penderitaan (dukkha) akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti jejak kaki lembu yang menarik kereta pedati itu." (Dhammapada-1)


(Sumber: Realization of the Dhamma, Sayadaw U Dhammapiya, Selangor Buddhist Vipassana Society, Malaysia 1994. Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma XII, atas izin Ir. Lindawati T)

Dikutip dari: Kalyanadhammo, Bodhi Buddhist Centre Indonesia

Kisah Seekor Induk babi muda

Suatu kesempatan, ketika Sang Buddha sedang berpindapatta di Rajagaha, ia melihat seekor induk babi muda yang kotor dan beliau tersenyum. Ketika ditanya oleh Ananda. Sang Buddha menjawab, “Ananda, babi ini dulunya adalah seekor ayam betina di masa Buddha Kakusandha. Karena ia tinggal di dekat ruang makan di suatu vihara, ia biasa mendengar pengulangan teks suci dan kotbah Dhamma. Ketika ia mati, ia dilahirkan kembali sebagai seorang putri.


Suatu ketika, saat putri pergi ke kakus, sang putri melihat belatung dan ia menjadi sadar akan sifat yang menjijikan dari tubuh. Ketika ia meninggal dunia. Ia dilahirkan kembali di alam Brahma sebagai brahma puthujjana; tetapi kemudian karena beberapa perbuatan buruknya, ia dilahirkan kembali sebagai seekor babi betina. Ananda! Lihat, karena perbuatan baik dan perbuatan buruk tidak ada akhir dari lingkaran kehidupan.Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut : Sebatang pohon yang telah ditebang masih akan dapat tumbuh dan bersemi lagi apabila akar-akarnya masih kuat dan tidak dihancurkan. Begitu pula selama akar nafsu keinginan tidak dihancurkan, maka penderitaan akan tumbuh berulang kali. Apabila tiga puluh enam nafsu keinginan di dalam diri seseorang mengalir deras menuju obyek-obyek yang menyenangkan, maka gelombang pikiran yang penuh nafsu akan menyeret orang yang memiliki pandangan salah seperti itu.


Di mana-mana mengalir arus (nafsu-nafsu keinginan); di mana-mana tanaman menjalar tumbuh merambat. Apabila engkau melihat tanaman menjalar (nafsu keinginan) tumbuh tinggi, maka harus kau potong akar-akarnya dengan pisau (kebijaksanaan). Dalam diri makhluk-makhluk timbul rasa senang mengejar obyek-obyek indria, dan mereka menjadi terikat pada keinginan-keinginan indria. Karena cenderung pada hal-hal yang menyenangkan dan terus mengejar kenikmatan-kenikmatan indria, maka mereka menjadi korban kelahiran dan kelapukan. Makhluk-makhluk yang terikat pada nafsu keinginan, berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak. Karena terikat erat oleh belenggu-belenggu dan ikatan-ikatan, maka mereka mengalami penderitaan untuk waktu yang lama. Makhluk-makhluk yang terikat pada nafsu keinginan, berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak. Karena itu, seeorang bhikkhu yang menginginkan kebebasan didri, hendaknya ia membuang segala nafsu-nafsu keinginannya.   
( Dhammpada 338-343)

Bendera Buddhis

Bendera Buddhis resmi dipakai di hadapan publik untuk pertama kalinya pada suatu upacara Wiasak di Dipaduttararama, di Kotahena, Sri Lanka, tepatnya pada tanggal 28 April 1885. tanggal kelahirannya sendiri umumnya dikatikan dengan pemampangan wujud bendera ini di harian Sarasavi Sandaresa pada tanggal 17 April 1885. Sri lanka pada abad kesembilanbelas sedang bergolak menghadapi tantangan akibat kehadiran dan kegiatan misionaris kristen di pulau tersebut. Bendera Buddhis diciptakan untuk mempersatukan umat Buddha Sri lanka dalam menghidupkan kembali agama Buddha. bendera ini juga menjadi lambang kejaayn umat Buddha dalam gerakan tersebut. Belakangan, banyak cendekiawan menamakan gerakan ini sebagai gerakan agama Buddha Protestan.



Gerakan menghidupkan kembali agama Buddha itu antara lain dirumuskan oleh panitia Peringatan Waisak tahun 1880 di Colombo. Anggota panitianya adalah yang Arya hikkaduwe Sri Sumangala thera (ketua), yang Arya Mohottivatte (Migettuwatte) Gunananda Thera, Don carolis hewavitharana, Muhandiram, A.P. Dharmagunawardena, william de Abrew, Carolis Pujitha Gunawardena (Sekretaris), Charles A. de Silva, N.S Fernando, Peter de Abrew, dan H. William fernando. Diantara orang-orang ini Carolis Pujitha gunawardena yang seketaris sering dipandang sebagai perancang bendera buddhis, walaupun pada umumnya ada kecenderungan untuk memandang keseluruhan panitia penyelenggara perayaan Waisak 1885 sebagai yang berjasa bagi proses penciptaannya.

Kolonel Henry Steel Olcott pertama kali datang ke Sri Lanka bersama Madame H.P. Blavatsky, pendiri-pendiri Theosophical Society, pada tahun 1880. ketika bendera Buddhis pertama kali dikibarkan di Sri Lanka, Kolonel Olcott sedang berada di India. ia kembali ke Sri lanka dari India pada tanggal 28 januari 1886. ia mencatat kesan-kesannya begitu melihat bendera Buddhis berkibar di Kotahena. Menurutnya bentuk bendera itu kurang mengena atau serasi untuk dibawa dalam prosesi atau dipancang di rumah-rumah. Kolonel Olcott menyarankan agar bentuknya dibuat sebangun dan seukuran dengan bendera nasional. Sarannya diterima dan pada tanggal 8 April 1886 bendera gubahan baru dipampang kembali di harian Saravasi Sandaresa. bentuk inilah kemudian yang diperbanyak dikibarkan baik pada upacara Waisak 1886 maupun pada setiap vihara dan rumah-rumah di Sri Lanka.

Catatan Kolonel Olcott juga menyebutkan bahwa paduan warna yang terdapat dalam bendera Buddhis versi Sri Lanka adalah serupa dengan yang ada pada bendera yang dipakai Dalai Lama di Tibet. Dalam tradisi agama Buddha, kombinasi warna ini mengacu ke pancaran enam warna aura Buddha. Dalam literatur Sanskrit, ciri unik Buddha yang berupa enam warna cahaya Buddha ini disebut sadvarna-buddha-ramsi; kata ramsi merupakan metatesis dari rasmi). Enam warna itu secara berurutan adalah biru (nila), kuning (ita), merah (lohita) putih (odata), jingga (manjestha, paliL manjettha), dan campuran dari lima warna di atas (prabhasvara, Pali: pabbhassara). Dikatakan juga bahwa warna biru berasal dari rambut dan bagian biru dari mata, warna kuning berasal dari kulit dan bagian kuning dari mata, warna merah berasal dari daging, darah dan bagian merah dari mata, warna putih berasal dari tulang, gigi, dan bagian putih dari mata, dan dua warna lainnya berasal dari berbagai bagian tubuh Buddha. Lalu, formasi urutan warna ini bila dipasang bersebelahan dengan arca Buddha, warna biru menempati posisi diatas atau disebelah dalam.

Pada tahun 1889, Anagarika Dharmapala dan Kolonel Olcott memperkenalkan bendera ini ke Jepang dan selanjutnya ke Burma. Kemudian, sewaktu World Fellowship of Buddhists pada tahun 1950 bersidan di Colombo, atas permintaan Almarhum Profesor G. P. Malalasekera, bendera Buddhis diseakati untuk diterima sebagai bendera umat Buddha di seluruh dunia, Sejak saat itu bendera Buddhis yang berasal mula dari Sri Lanka ini meningkat kedudukannya sebagai lambang Buddhis internasional.

Anak Anjing

Seorang anak lelaki memasuki Pet Shop bertuliskan

"Dijual Anak Anjing".

Ia bertanya :
"Berapa harga seekor anak anjing?"

Pemilik toko menjawab, "Sekitar 30 sampai 50 Dollar."



Anak itu berkata,
"Aku hanya mempunyai 23,5 Dollar. Bisakah aku melihat-lihat anak anjing itu?"

Pemilik toko tersenyum. Ia lalu bersiul. Tak lama kemudian muncullah lima ekor anak anjing sambil berlarian.

Tapi ada seekor yang tampak tertinggal di belakang.

Anak itu bertanya,
"Kenapa anak anjing itu?"

Pemilik toko menjelaskan bahwa anak anjing itu menderita cacat karena kelainan di pinggul saat lahir.
Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata,
"Aku beli anak anjing itu."

Pemilik toko menjawab, "Jangan, jangan beli anak anjing cacat itu, Nak. Jika kau ingin memilikinya, aku akan berikan saja untukmu."

Anak itu kecewa.

Ia menatap pemilik toko itu dan berkata,
"Aku tak mau diberikan cuma-cuma. Meski cacat, harganya sama seperti anak anjing lainnya. Aku akan bayar penuh. Saat ini uangku 23,5 Dollar. Setiap hari aku akan mengangsur 0,5 Dollar sampai lunas."

Tetapi lelaki itu menolak, "Nak, jangan beli anak anjing ini. Dia tidak bisa lari cepat, tidak bisa melompat & bermain seperti anak anjing lainnya."

Anak itu terdiam. Lalu ia menarik ujung celana panjangnya. Dan tampaklah kaki yang cacat.

Ia menatap pemilik toko itu dan berkata,
"Tuan, aku pun tidak bisa berlari cepat. Akupun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main seperti anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu membutuhkan seseorang yg bisa mengerti penderitaannya."

Pemilik toko itu terharu dan berkata,
"Semoga anak-anak anjing ini mempunyai majikan sebaik engkau."

Nilai kemuliaan hidup bukanlah terletak pada status ataupun kelebihan yang kita miliki,
melainkan pada apa yang kita lakukan berdasarkan pada pikiran yang penuh dengan cinta dan welas asih.

Kita seharusnya busa mengerti dan menerima kekurangan.

"Keindahan fisik bukanlah jaminan keindahan batinnya"

Sumber: Artikel Buddhis